Resensi Novel Perempuan di Titik Nol
Resensi Novel Perempuan
di Titik Nol
IDENTITAS BUKU
Judul : Perempuan
di Titik Nol (Women at Point Zero)
Penulis : Nawal
el-Saadawi
Penerjemah : Amir Sutaarga
Pengantar : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan
Pustaka Obor Indonesia
Cetakan :
Ke-12 (2014)
Tebal :
xxiv + 156 halaman
Ukuran :
11 x 17 cm
PENDAHULUAN
Nawal
al - Saadawi adalah seorang dokter di Mesir, selain menjadi dokter dia juga
terkenal seorang novelis dan penulis wanita yang memperjuangkan hak-hak wanita.
Dia pernah bekerja sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir dan Pemimpin
Redaksi Majalah Health. Nawal al - Saadawi lahir di sebuah desa Kafr Tahia di
tepi Sungai Nil. Pada saat itu sastra Arab kurang dikenal di Indonesia tetapi
novel Perempuan di Titik Nol atau Women at Point Zero mempunyai keunggulan
daripada novel-novel lain yang pernah dia buat.
Novel Perempuan di Titik Nol diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sedangkan novel-novelnya yang lain belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Nawal al - Saadawi selalu menulis tentang kehidupan, status, psikologi dan seksualitas wanita, seperti Women and Sex; Women and Psychological Conflict; The Chant of the Children Circle; Two Women in Love, God Dies by the Nile; Memoirs of a Lady Doctor; A Moment of Truth dan Litte Sympathy. Novel yang berjudul Perempuan di Titik Nol ini mempunyai keunikan, yaitu penulis langsung mewawancarai narasumbernya di dalam penjara Qanatir. Jadi semua yang ditulis di dalam novel itu adalah fakta dan terpercaya.
Novel Perempuan di Titik Nol diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sedangkan novel-novelnya yang lain belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Nawal al - Saadawi selalu menulis tentang kehidupan, status, psikologi dan seksualitas wanita, seperti Women and Sex; Women and Psychological Conflict; The Chant of the Children Circle; Two Women in Love, God Dies by the Nile; Memoirs of a Lady Doctor; A Moment of Truth dan Litte Sympathy. Novel yang berjudul Perempuan di Titik Nol ini mempunyai keunikan, yaitu penulis langsung mewawancarai narasumbernya di dalam penjara Qanatir. Jadi semua yang ditulis di dalam novel itu adalah fakta dan terpercaya.
ULASAN NOVEL
Novel ini bercerita tentang seorang wanita yang sedang
mendekam di penjara Qanatir. Dengan menggunakan latar tempat di Mesir novel ini
juga sangat pas untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita yang terkadang
meremehkan wanita. Novel ini berdasarkan kisah nyata. Ditulis dan diceritakan
oleh Nawal el-Saadawi yang adalah seorang dokter perempuan Mesir yang juga
berprofesi sebagai penulis
Wanita itu bernama Firdaus. Ayahnya adalah seorang
petani miskin, Firdaus sering membantu orang tuanya di ladang. Dari kecil
Firdaus hidup dalam tekanan dan sudah mendapatkan perlakuan asusila dari
temannya bernama Muhammadain dan pamannya. Kemudian setelah orang tuanya
meninggal, Firdaus tinggal bersama pamannya di Kairo. Firdaus semakin
mendapatkan tindak asusila dari pamannya.
Disana Firdaus disekolahkan sampai sekolah menengah
dan tinggal di asrama sekolah, beberapa tahun kemudian Firdaus lulus dari
sekolah, kemudian ia kembali ke rumah pamannya. Namun, istri pamannya tidak
setuju apabila Firdaus tinggal dirumahnya, akhirnya Firdaus dinikahkan dengan
seorang duda tua, teman dari paman Firdaus yang bernama Syekh Mahmoud.
Awalnya rumah tangga Firdaus berjalan dengan baik,
namun lama-lama kekerasan pun dilakukan oleh suaminya. Firdaus memutuskan
meninggalkan rumah dan mencari pekerjaan dengan ijazah yang dimilikinya.
Sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang
orang pertama pelaku sampingan. Dikarenakan pengarang berperan sebagai pelaku
yang menceritakan tentang kenginannya bertemu dengan Firdaus. Pengarang
berperan sebagai pelaku yang serba tidak tahu. Pengarang hanya mendengarkan
cerita dari tokoh utama yang bernama Firdaus.
Di suatu cafe dia bertemu dengan Bayoumi dan akhirnya
tinggal serumah dengannya. Awalnya Bayoumi adalah lelaki yang baik, perhatian
dan sopan tetapi ternyata dia sama seperti ayah dan suaminya yang suka memukul
dan melecehkan dirinya. Bahkan Bayoumi mengundang teman-temannya untuk berbuat
asusila kepada Firdaus. Karena merasa tidak tahan akhirnya Firdaus melarikan
diri dari rumah Bayoumi dan bertemu dengan seorang wanita cantik yang bernama
Sharifa. Disinilah Firdaus mulai memasuki dunia pelacuran. Dia melayani setiap
tamu yang sudah dijadwalkan oleh Sharifa tanpa mendapatkan uang.
Kemudian ia bertemu dengan pacar sharifa yang bernama
Fawzi, ia menyadarkan Firdaus bahwa dia telah dimanfaatkan oleh Sharifa.
Kemudian dia sadar dan kembali pergi dan mencari pekerjaan dengan menggandalkan
ijazah sekolahnya. Di tempatnya bekerja,
Firdaus jatuh cinta kepada Ibrahim. Tetapi ternyata Ibrahim akan segera menikah
dengan anak Manager perusahaan, Firdaus pun pergi meninggalkan perusahaan tempatnya
bekerja. Firdaus patah hati dan memilih menjadi pelacur lagi. Dia berpikir
untuk menjadi pelacur yang sukses dan lebih baik. Akhirnya Dia menjadi pelacur
yang sukses, memiliki apartemen dan menerima bayaran paling tinggi.
Pada suatu hari, ada seorang germo laki-laki yang meminta
Firdaus menikahinya, namun germo itu meengatakan “setiap pelacur mempunysi
germo untuk melindungi dari germo-germo yang lain, dan dari polisi. Itulah yang
saya lakukan.” (hal 152)
.
.
Firdaus sangat membenci laki-laki yang berusaha untuk
menyelamatkannya dari kehidupan yang ia jalanin karena “Mereka ingin merasakan diri
sebagai orang mulia dan mengingatkan saya bahwa kenyataannya saya adalah orang
rendahan.” (hal. 146)
Firdaus kemudian memutuskan untuk pergi. Namun lelaki
itu sudah berada di depan pintu. Percekcokan pun tak terhindarkan, mereka
saling beradu mulut. Karena merasa kesal, lelaki itu pun mengambil pisau.
tetapi Firdaus dengan cepat menangkis dan menancapkan ke leher, dada dan perut
lelaki itu. Lalu Firdaus meninggalkan tempat kejadian.
Setelah kejadian itu, Firdaus bertemu dengan pangeran
Arab dan berkencan. Kemudian Firdaus menceritakan bahwa dia telah membunuh
seorang laki-laki dan pangeran Arab tidak percaya Firdaus telah membunuh
seseorang. Kemudian Firdaus menampar pipi pangeran Arab. Pangeran Arab pun
sangat marah dan merasa takut. Akhirnya polisi memasukkan Firdaus ke penjara.
Disini terlihat bahwa tokoh Firdaus berani menanggung
risiko atas perbuatan yang telah dilakukannya. Dan Firdaus berani untuk
mengungkapkan kebenaran.
Kemudian mereka menghukum Firdaus seumur hidup karena
mereka takut jika bebas, ia akan melukai orang lain. Sebenarnya Firdaus bisa
bebas dengan meminta pengampunan ke Presiden namun Firdaus menolak dan barkata:
“jika saya keluar lagi dan memasuki kehidupan yang menjadi milikmu, saya tidak
akan berhenti membunuh. Jadi apa gunanya saya menyampaikan permohonan
pengampunan kepada presiden?” (hal 168)
Novel ini mengajarkan bahwa jangan terlalu mudah
percaya kepada oranglain, apalagi orang yang baru kita kenal.
Kelebihan novel ini adalah tidak mempunyai banyak
halaman sehingga dapat dibaca dalam waktu singkat.Serta amanat dalam novel yang
mengajarkan kaum perempuan untuk lebih menghargai diri sendiri, lebih
berhati-hati di dunia luar.
Kekurangan novel ini
bahasanya sulit dimengerti, mungkin karena efek dari bahasa terjemahan. Covernya kurang menarik dan terkesan horor
karena dominan warna merah. dan alurnya yang maju-mundur membingungkan pembaca.
PENUTUP
Novel Perempuan di Titik Nol ini banyak mengajarkan
banyak hal untuk para perempuan, namun novel lebih cocok dibaca oleh orang
dewasa (+17 tahun) karena di dalam novel ini bahasa yang digunakan sedikit fulgar,
ceritanya mengandung seks dan kekerasan. Jika ada anak kecil di bawah 17 tahun
yang ingin membaca novel ini sebaiknya orang tua mendampingi agar tidak terjadi
salah pemahaman.

Comments
Post a Comment